The Story of Virgo Boy #1 - RIWAYAT


RIWAYAT
Virgo, panggil saja aku dengan nama itu. Aku hanyalah manusia biasa, dan kurasa cerita ini juga biasa terjadi pada kebanyakan orang di dunia. Ceritaku mungkin sedikit berbeda, mungkin. Usiaku sekarang 21 tahun, penyakitan, sekarat, mungkin sebentar lagi ajalku datang, mungkin. Aku sering mimisan, sakit kepala yang hebat sampai rasanya ingin kupotong saja kepalaku ini. Masalahku tak se-simple ini. Semua dimulai ketika aku masih bayi.

1997,
Aku tidak yakin dengan hal ini tapi ini yang kutahu. Nenek sendiri yang bercerita tentang hal ini 10 tahun lalu ketika aku sadar dari mati suriku. Aku dibuang nenekku ke tempat sampah, didekat Sekolah Dasar di desaku. Waktu itu hujan lebat, dan aku yang masih bayi tak sanggup menahan dinginnya hujan di senja hari. 

Seseorang datang, usianya hampir sama dengan nenekku. Dia Mak Nana. Dia menangis ketika melihat bayi laki-laki terdiam dalam balutan kain jarik yang basah kuyup karena hujan deras masih berlanjut. Mak Nana mengambil bayi bayi itu, aku. Mak Nana kaget ketika sudah tidak merasakan hembusan nafas dari hidung bayi itu, Mak Nana tahu wajah bayi itu familiar sekali. Mak Nana marah besar sambil menangis sesenggukkan menggendong bayi.

Dalam batinnya, ia dulu pernah mengasuh bayi itu. Ia tak menyangka nenek tega membuang bayi yang masih suci.

Mak Nana berlari kearah Rumah nenek.
"Lah, keluar kamu!! Tega-teganya kamu membuang bayi yang tak berdosa. Jika kamu tak mau mengasuhnya, kenapa tak kamu berikan saya padaku tenpo hari!" Kata Mak Nana.

Nenek dengan cepat membuka pintu, "Maafkan aku tapi aku tahu jika dia tetap hidup akan menderita" Balas Nenek mulai menangis.

"Bagaimana kamu tahu dia akan menderita. Jangan kamu bilang kamu sudah melihat masa depannya. Kamu itu gila Lah! Semua orang membencimu karena kamu aneh, dan sekarang kamu puas sudah membunuh bayi yang tak berdosa ini?!" Mak Nana berteriak sekencang-kencangnya beradu dengan derasnya suara derasnya hujan.

"Gusti Allah, Apa yang kamu katakan Na?! Dia sudah meninggal?" Nenek mencoba melihat bayi yang dari tadi terdiam.

Nenek seketika diam dalam tangis histeris, ia memohon ampun dan mengelus pipi chubby bayi itu. Tiba-tiba bayi itu membuka matanya dan bersin. Mak Nana dan Nenek kaget. Mereka saling pandang karena rasa bingung yang luar biasa. Nenek segera membawaku kedalam rumah bersama Mak Nana. Nenek segera mengelap tubuh bayi itu yang basah air hujan dan memberi minyak kayu putih dan memakaikan pakaian dan menyelimuti bayi itu agar hangat.

"Nak, Nenek janji akan merawat kamu sebaik mungkin. Nenek tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Maafkan nenek sudah jahat membuangmu. Gusti Allah memberikan keajaibannya hari ini. Nenek harap masa depanmu bisa jauh lebih baik dari apa yang nenek lihat. Semoga kamu betah di keluarga ini ya nak" Nenek masih menangis dan mengelus pipi bayi yang tersenyum melihatnya.

"Semoga anak ini jadi anak yang dicintai banyak orang ya Lah. Kamu yang sabar, cuma kamu yang bisa merawatnya dengan baik. Aku tidak punya apa-apa. Tapi aku akan tetap menganggapnya seperti anakku sendiri" Kata Mak Nana menenangkan Nenek.

Semenjak hari itu, nenek yang selalu merawatku. Dikala Ibu bekerja banting tulang memeras keringat untuk sesuap nasi dan tak ada sosok suami yang menemani, hidup begitu sulit waktu itu. Saudari-saudariku merantau jauh, meninggalkan rumah yang menjadi sepi dan membosankan. Sampai sekarang aku masih bingung alasan Nenek membuangku. Aku yakin Nenek punya alasan yang kuat melakukan tindakan seperti itu.

2001,
Taman Kanak-Kanak, merupakan tempat yang paling membahagiakan bagi anak kecil seusiaku. Tapi tidak untukku. Dalam benakku, aku iri melihat teman-temanku bersama kedua orang tua mereka. Diantar jemput setiap hari, uang jajan yang jauh lebih banyak dariku, bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan dirumah bersama keluarga mereka, semua menyiksa batinku yang masih balita.

Virgo kecil adalah seorang yang tidak mau diatur. Tapi banyak sekali yang suka berteman denganku. Walaupun setiap hari aku selalu mencari perhatian pada teman dan guru dengan berbuat nakal, tak satupun dari mereka yang membenciku. Itu yang membuatku bahagia dan menutupi luka dimana aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan, walaupun sebentar saja.

Nyatanya, yang bernasib sama sepertiku bukan hanya aku saja. Evana, dia adalah anak perempuan chubby yang pintar. Dia sama sepertiku, tak memiliki keluarga yang utuh. Yang paling parah, dia anak tunggal. Dia bilang dia iri padaku karena aku memiliki banyak saudara perempuan. Aku hanya tertawa mendengarnya, dia tak tahu aku tak pernah mengenal semua saudariku. Dia bilang juga iri melihatku memiliki banyak teman sedangkan dia hanya bisa bermain denganku, karena dia selalu diejek pipi besar oleh teman-temannya yang lain.

Ada momen dimana aku merasa tak sendirian. Ketika aku dan Evana pulang bersama nenek kami. Kami berjalan kaki seperti biasa, dan mengobrol banyak hal sampai akhirnya kita membicarakan hal yang lucu dan menggelitik untuk ukuran anak TK.

"Virgo, ayah kamu dimana?" Tanya Evana

"Kata ibu, dia sudah meninggal lama sekali, bagaimana dengan ayahmu?" Aku balik bertanya

"Sama, Kata ibuku ayah sudah meninggal dunia karena kecelakaan" Kata Evana dengan ekspersi biasa

"Apa kamu sedih tidak punya ayah?" Tanyaku kembali

"Terkadang aku iri melihat Sofia yang bisa dijemput ayahnya. Tapi aku tidak sedih, aku masih punya ibu dan nenek"

"Sama, aku juga iri melihat mereka bersama orang tua mereka. Tapi aku punya nenek dan ibu. Aku tidak butuh ayah. Kelak saat dewasa nanti, aku tidak akan menikah"

"Kenapa kamu tidak mau menikah?" Tanya Evana

"Aku tidak mau meninggal lebih dulu, kasian anakku nanti akan jadi anak yang tanpa ayah sepertiku"
Nenekku dan Nenek Evana tertawa,

"Siapa yang tahu umur seseorang cu, Nenek doakan kamu bisa berumur panjang agar bisa menikah dan bersama istri dan anakmu" Kata Nenek Evana

"Terima kasih Nek" Aku tersenyum tapi ketika aku melihat raut wajah Nenekku seperti menyimpan kesedihan. Ketika Nenek tahu aku memperhatikannya, dia tersenyum tipis dan mencubit pipiku.

Hidup mungkin terkadang begitu rumit jika kupikir lagi. Tak ada yang mudah. Riwayatku mungkin lebih dari ini, tapi untuk sekarang, hanya itu yang kutahu. Aku tahu banyak rahasia yang nenek simpan, dan aku sekarang bingung siapa diriku yang sebenarnya. Jika kubisa teleportasi, mungkin aku akan kembali dimasa ketika aku lahir, dan melihat sendiri bagaimana hidupku dari awal dengan mata kepalaku sendiri.

Tapi nyatanya, tak semudah itu. Masih banyak puzzle yang belum terkumpul dan terpasang dengan benar. Masih banyak tanda tanya dalam hidupku. Masih banyak yang menutupinya.Tapi untuk saat ini, inilah riwayatku.

0 Response to "The Story of Virgo Boy #1 - RIWAYAT"

Post a Comment

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Tolong jangan pernah tinggalkan link aktif, terima kasih. Admin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel